Saat itu, pada pagi hari aku membuka mata, sudah ada sup yang wanginya tercium di sebelahku. Aku pun melihatnya, ternyata sup krim ayam. Memang, bahan-bahannya itu murah, tetapi karena Keigo pintar masak, rasanya jadi enak, seperti makan di lestoran bintang 5! Eh, kok aku jadi menceritakan tentang sup krim ayam ya? Ganti topik!!
“Uum, selamat makan…” kataku mengambil supnya dan memakannya.
“Tadi kenapa?” Tanya Keigo yang tiba-tiba di sebelahku.
“UWAAH?!” kataku terkejut.
“Eh, sorry, sorry” katanya. “Aku mengejutkanmu, ya?”
“Bisa di bilang begitu…” kataku menatap dengan tatapan sebal.
“Aku ingin tanya, kemarin Zenkei kenapa sih, tiba-tiba memukulku?” tanyanya.
“Eeeh, itu…”
“Aku mau menciumnya…” kata Zen tiba-tiba yang sudah bangun.
“Z-Zenkei!?” kataku terkejut.
“Hee… Kalian sudah pacaran?” tanyanya.
“N-Nggak kok!!” kataku panik.
Sejenak, mata Keigo terpancar tatapan yang tajam. Apa maksudnya?
“Nggak usah malu, semoga berjalan lancar yaa” katanya tersenyum. “Maaf mengganggu momen bagus kalian berdua, bye”
“Tung…” sebelum aku sempat menyelesaikan kataku, ia sudah keluar dari ruangan ini.
“Huff, kau memang tidak menyukaiku sama sekali, ya? Yasudah lah” katanya. “Tapi aku akan terus menyukaimu dan mendukungmu”.
“Zen… Thanks!” kataku tersenyum. Aku pun memeluknya “My childhood friends, I love you!”
“Aaargh” katanya blushing.
“Aku akan mengajaknya jalan sama aku” kataku.
“Hm? Good luck ya, kalo gitu” katanya tersenyum. “Aku juga akan pulang hari ini.”
“Ok. Thanks!” lalu, aku pun tersenyum dan mandi. Lalu pergi keluar. Diluar Keigo sedang menonton TV sambil makan snack.
“Uhh, Keigo-san…” kataku.
“Hm? Ya?” tanyanya.
“M-mau jalan bareng? Uum, aku ingin beli baju baru.” Tanyaku.
“Boleh aja, yuk” katanya tersenyum.
“Thanks!!” kataku tersenyum lebar.
“Your welcome” katanya.
Lalu kami pun pergi ke Hiromi mall.
“Bagaimana kalau toko itu? Lumayan bagus” katanya. “Ayo!”
“Eh, iya…” kataku “Tunggu, aku nggak secepat kamu”
Tiba-tiba ia menggenggam tanganku dan menarikku. Mukaku pun merah padam. “U-uwaa?!”
“Ayo, nanti keburu keambil yang bagus-bagus” katanya.
Aku bisa melihat mukanya dari belakang, ia… blushing? Tunggu, ini tidak mungkin, mana mungkin ia blushing? Ya sudahlah, jangan pikirkan.
Kami pun mencari-cari baju, dan aku pun mengambil semua yang kusuka, dan membelinya. Kami pun ingin keluar, saat kami melintasi ruang ganti baju, tiba-tiba ada suara, “Keigoo? Apa kamu disinii?”
“Tch, ada Elisa?!” katanya.
“Huh?! Bagus dong, kalau begitu--- uwaaah!” kataku terkejut karena tiba-tiba ia menutup mulutku dan mendorongku kedalam tempat ganti baju, dan menutup pintunya.
“Diam dulu” katanya berbisik. “Aku tak ingin ia tahu kita ada di sini”
Aku pun mengangguk. Aku pun blushing, uuurgh apa yang akan terjadi?
“Aah, dimana sih, dia? Padahal tadi aku mendengar suaranya. Mungkin sudah keluar.” Katanya.
Suaranya pun semakin menjauh, dan hilang. Dia pun membuka tangannya.
“Huuff… Memangnya kenapa sih, kalau ketawan?” tanyaku bingung.
“Aku hanya tak ingin orang tau kalau kita pergi berdua. Apalagi Elisa” katanya.
“E-eeeeh?!” kataku blushing.
Ia tersenyum kearahku dan blushing juga.
“Tapi, i-ini… uuh, kau bukannya sudah pun---”
“Ssst, udah jangan ngomongin orang lain lagi.” Katanya menutup mulutku.
Aku pun terdiam bisu, mukaku merah padam, benar-benar tidak bisa ditahan lagi.
“Kau sudah pernah ciuman?” tanyanya dan mendekat.
“H-huh? B-belom, nyaris diambil sama Zenkei, sih” kataku makin blushing karena bibir kami nyaris kena. “Memangnya kenapa?”
“Aku akan mencurinya” katanya.
“A-apa…” kataku tak bisa berkata-kata.
“you’ll be mine…” katanya yang mukanya makin mendekat.
“Ja…” kataku berusaha menghindarinya.
Dan…
“Heaaahh!! Dilarang mencuri ciuman Zenia-san!!!” kata Zen yang tiba-tiba memukul Keigo dari atas?!
“Z-Zen?!” kataku terkejut.
“Walaupun kau yang mengajak, jangan pernah mencuri ciumannya.” Katanya tersenyum.
“Err.. Baik” katanya sweatdrop.
Lalu, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Tetapi, saat dijalan ada seseorang yang berjalan di depanku. Seorang perempuan yang tersenyum, berambut panjang yang bersama laki-laki berkacamata disampingnya.
“Kau Laura Phantomhive, ‘kan?” tanyanya.
“Laura? Maksudmu?” tanyaku. “Aku bukan Laura, namaku Zenia Heartfilia.
“Jangan bercanda, kau sangat mirip dengan Laura. Hanya saja kau potong rambut. Buktinya matamu yang satu lagi tertutup!” katanya.
“Tapi, aku memang bukan Laura!” kataku.
“Aaah! Banyak basa basi!” katanya. “Shizu! Serang Laura sekarang juga! Kau juga boleh membunuhnya, kok. Ah, maaf, jangan deh. Nanti your highness marah. Kalau begitu serang, dan tangkap dia.”
“Your wish in my command” katanya.
Dia pun menyerangku dengan barang yang ada disana. Aku pun mengsummon Angel, tetapi langsung ditaklukkan!! Aku langsung bingung, apa yang harus kulakukan?! Aku pun terus menghindari serangannya, tetapi dia tetap menyerang dengan cepat sekali. Lama kelamaan aku mulai kelelahan. Aku pun terjatuh dan nafasku sudah tidak bisa kukontrol lagi. Seandainya ada yang bisa melindungiku!!
Aku pun teringat sesuatu, jika aku dalam bahaya, aku harus membuka penutup mata ini… apa yang akan terjadi? Sudahlah! Itu urusan nanti, yang penting itu sekarang!
“Aku tidak tahu ini apa, dengan cara apa, tapi tolong lindungi aku!!!” kataku membuka penutup mataku.
Ketika Shizu hampir mengenaiku dengan ranting pohon disebelah, aku menutup mataku, berharap untuk selamat. Aku pun terdiam. Lho? Kok diam saja? Aku pun membuka mataku, didepanku pun ada seorang lelaki sepantarku yang menahan ranting pohon itu dan mematahnya.
“Untung saja kau memanggilku ya, My lady. Hampir saja mengenaimu” katanya tersenyum kearahku.
“E-eh?” tanyaku bingung. Apakah ini bantuan yang dimaksud? Tetapi siapa ini?
“Hm, sebaiknya kau memberiku perintah, sebelum mereka berbuat lebih jauh lagi.” Katanya terus menahan Shizu.
“P-perintah?” tanyaku makin bingung. “Baiklah, kalau begitu… kuperintahkan untuk menghentikan pertarungan ini”
“…Okay young master” katanya.
“Sudah! Kita berbalik!” kata perempuan itu. Shizu pun kembali ke perempuan itu. “Akan kuingat kau, Laura”
Mereka pun pergi. Aku pun terdiam.
“Kenapa, Master?” tanyanya.
“Aku penasaran, siapa kau?” tanyaku.
“I’m just a devilish talented butler” katanya.
“Butler? Kau butlerku?” tanyaku.
“ya, teman-temanmu datang tuh” katanya.
“Zenia-san, kau tidak apa-apa?!” tanya Keigo dan Zenkei.
“Aku tidak apa-apa.” Katanya.
Dalam sekejap, Keigo dan Zenkei tegang, dan terdiam setelah melihat butlerku. Lalu, mereka pun menunduk dengan memanggil “Ryou-sama!”
“Oh, Zen… dan siapa kau?” tanya butlerku.
“Keigo Raito, kawannya yang ikut mempunyai kekuatan.” Katanya. “Aku ingin tanya satu hal, ini tentang Zenia… itu anak legendaris, kan? Tetapi aku tidak pernah mendengar nama Zenia Heartfilia.”
“Akan kuberitahu detailnya, mari kerumah Master” katanya.
“Baik” katanya mengangguk.
Lalu, kami pun sampai dirumahku.
“Begini, mula-mula kuperkenalkan ulang, ini Zen Kurogane. Ia mempunyai kekuatan Darkness. Ia putra dari kerajaan Melchberg. Dan kau, Keigo Raito, kau adalah pengembara yang berkeliling dengan kekuatan pistol pemanggil, begitu?”
“Ya, benar” katanya.
“Lalu, perempuan berambut hitam itu…” kataku.
“Itu Mirei Trancy” katanya. “dari keluarga Trancy. Ia memihak kepada si jahat”
“Lalu bagaimana denganku dan kau?” tanyaku.
“Aku, sebenarnya adalah Fukamori Ryou. Aku adalah orang yang diutus untuk menjagamu, I’m a Devilish talented butler, seperti Sebastian Michaelis. Bisa dibilang, Aku partnernya dan tunangan Grell.” Katanya.
“S-sebastian…? Siapa itu?” tanyaku.
“Nah, inilah masalah besarnya. Zenia, sebenarnya kau itu adalah putri dari Sebastian Michaelis dan Ciel Phantomhive.” Katanya. “Namamu yang sebenarnya adalah Laura Phantomhive. Cincin itu adalah cincin yang mewarisi keluarga Phantomhive. Itu adalah… eer, Ibumu atau Ayahmu, aku bingung mengatakannya, ia memberi cincin itu kepadamu sebelum ia pergi dengan Sebastian. Nah, matamu yang tertutup itu, bukalah”
Aku pun membukanya, mataku berbentuk bintang, berwarna ungu.
“Itu kontrakmu denganku” katanya.
“Kontrak…?” tanyaku.
“Ya, Kontrak. Perjanjian untuk menjadi butlermu, ‘A devilish talented butler’ yang sebenarnya aku itu adalah demon, kau hanya perlu membayar dengan nyawamu. Dulu, permintaan kau adalah mencari jalan keluar dari kehidupan ini” Katanya.
“…Baiklah…” kataku.
“Kau masih bisa menerimanya, ‘kan?” tanyanya.
“Pasti” kataku.
“Kau serius?!” tanya Zen dan Keigo.
“Aku itu kepala keluarga Phantomhive, kenapa aku perlu takut?” tanyaku.
Mereka tidak bisa berkata-kata.
“Oh iya, aku lebih suka dibilang ‘My lord’ daripada ‘My lady’. Jadi tolong panggil aku My lord.” Kataku.
“Yes, My lord” katanya tersenyum.
Semua pun menatapku dengan sweatdrop yang seperti mengatakan “Selera yang tomboy”.
“Oh ya, waktu itu kau bilang, Ciel itu Ibumu atau Ayahmu, itu maksudnya apa?” tanyaku.
“Dia laki-laki tapi hamil” katanya.
“A-A-A-APAAAAAAAAA?!?!!?!” kataku termasuk orang yang mendengar panik.
“Jadi… saking… Talentednya… Papaku… Menghamilkan… Ciel/bisa dibilang Ibuku…” kataku gemetar.
“Begitulah” katanya.
“K-KEREEENN!!!! Papa memang keren!!” kataku tersenyum lebar. “Baiklah, ok.”
Orang-orang hanya bengong ternganga melihat tingkahnya.
“Ini mengingatkan, Grell itu juga laki-laki kan? Dari namanya terdengar begitu” kataku.
Ryou mengangguk, orang-orang pun tambah shock.
“Tunggu, dulu rambutku panjang atau pendek?” tanyaku.
“Kau dulu rambutnya panjang dan dikuncir dua” katanya.
“Eeh, gitu ya…” kataku.
“Ini kartu-kartumu yang tertinggal denganku” katanya menyerahkannya.
“Terima kasih” kataku.
Aku pun coba mengingat apa yang terjadi dimasa lalu. Aku… pun berhasil mengingat sepotong, ketika… Ayah dan ibu… tersenyum kearahku… CKIT!! tiba-tiba, ada cekitan yang ada di kepalaku. Kepalaku pusing. Aku pun hampir kehilangan kesadaran.
“M-master?” tanya Ryou terkejut. “Kau tidak apa-apa?”
“N-nggak, nggak apa-apa” kataku.
“Baguslah” kaktanya.
“Aku ingin keluar, menghirup udara segar sebentar” kataku.
Aku pun keluar, dan berjalan pelan di jalan.
“Apa yang telah terjadi? Mengapa aku tidak bisa mengingat hal masa laluku? Mengapa kepalaku sakit saat memikirkannya?” kataku menonjok tembok.
“Itu karena memorimu disegel oleh Sebastian” kata Ryou yang ada dibelakangku.
“Disegel? Mengapa?” tanyaku.
“Aku… Tidak bisa mengatakannya, Sebastian bilang aku tidak boleh mengatakannya kepadamu sampai saatnya tiba” katanya.
“Katakan sekarang juga, Ryou. Inilah saatnya.” kataku menatap tajam kearahnya dan serius. “Aku sudah dewasa, sudah waktunya aku mengetahui segalanya.”
“Yes, My lord” katanya. “Begini…
FLASHBACK…
Tidak lama Ciel memberi cincin Phantomhive dan kartu untuk berlindung kepada Laura, dan pergi untuk mengecoh penjahat, tetapi dia pun tertembak. Sebastian sudah mencoba melindunginya, tetapi telat, Ciel sudah berdarah dan pendarahannya parah. Pada akhirnya, Ryou merasakan tanda bahaya dari suatu tempat, dan pergi ketempat itu karena mendengar panggilan Sebastian. Laura hanya diam ketakutan di balik pintu, menunggu kedatangan Sebastian dan Ciel.
Pada saat Ryou sampai, Ciel sudah terdiam lemas ditangan Sebastian yang dikepung. Ia pun menyerang pasukannya dan terdiam menggendong Ciel.
“Apa yang harus kita lakukan dengan anakmu, Sebastian? Ia sendirian disana.” Kata Ryou.
“Aku butuh bantuanmu saat ini, aku ingin kau membawa kabur Laura dan jangan kembali.” Katanya dengan tatapan serius.
“Sebastian, ia ‘kan mati-matian ingin bertemu denganmu, kau tidak merasa kasihan?” tanya Ryou.
“Ryou, sudahlah, bawa pergi Laura darisini. Kami hanya ingin dia tidak ikut campur dalam masalah ini. Dan aku tidak mau kalau dia… dendam” katanya
“T-tapi!!” kata Ryou sedikit panik.
“Papa…” kata Laura yang berjalan kearah Sebastian “Mengapa? Apa yang terjadi?”
“…Laura, kau harus melupakan semua ini, Papa akan datang kembali, Papa janji.” Katanya, lalu dia memegang muka Laura, dan Laura pun pingsan.
“S-sebastian?! Apa yang kau lakukan?!” tanya Ryou shock.
“Tenang, ia akan kembali sadar jika ingatannya terhapus semua, tetapi jika dia mencoba mengingatnya, kepalanya akan sakit, sampai aku membuka segelnya. Kau harus membawanya ketempat aman, Ryou! Walaupun aku benci meminta tolong, tetapi tolong bawa dia pergi dari sini. Suatu hari aku akan pergi menemui kalian. Kau akan pergi ke Tokyo, beri dia nama samaran Zenia Heartfilia.” Kata Sebastian.
“Baiklah, jaga dirimu baik-baik” kata Ryou membawa Laura pergi.
FLASHBACK END…
Sampai aku tinggal denganmu dan merawatmu sampai umur 11 tahun, dan aku pergi untuk urusan penting.” Kata Ryou. “Aku lupa bilang, Ciel pernah dibawa oleh Sebastian, tetapi, suatu hari dia muncul lagi dan kembali seperti biasa dan kehilangan ingatannya, lalu Ciel menjadi Demon. Tetapi dia baik-baik saja kok. Kita bisa mencarinya suatu saat.”
“Benar… oh iya aku ingin tanya satu hal” kataku menatap dengan serius.
“ya?” tanyanya.
“Siapa pelakunya?” tanyaku.
“Itu…” katanya menatap kearah lain.
“Katakan sekarang juga” kataku menarik dasinya.
“Y-your Fiancé, Kuroretsu Keita.” Katanya. “Dia mengamuk dan tidak bisa menahan kekuatannya, karena dulu kau memutuskannya.”
Aku pun terjatuh lemas, tetapi Ryou menangkapku sebelum aku menyentuh tanah.
“Tidak kusangka… biang keladinya adalah dia…” kataku.
“Tenang, Master. Kita bisa menghentikan langkah Keita yang selanjutnya suatu hari. Kau capek, kan? Mari kita pulang dan istirahat dahulu. Besok adalah keputusanmu akan melakukan apa. Tinggal panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu, jangan malu, dan terbukalah denganku. Aku ‘kan Butlermu.” Katanya menggendongku.
Aku hanya bisa melihat kearah lain, mukaku memerah.
“Ryou…” kataku.
“Ya, Master?” katanya.
“Ini perintah! Kau harus tetap ada disisiku, selalu melindungiku, dan tidak pernah berbohong denganku, dengan kata lain kau harus jujur apa yang kau inginkan! Tidak apa-apa, tunjukkan saja” kataku menatapnya dengan serius.
“Apa saja?” tanyanya.
“Ya” kataku.
Dia terkejut, tetapi tidak lama dia tersenyum,
“Yes, My lord…”
Bunga-bunga pun berterbangan, disaat itu, jas Ryou dilepaskan untuk dijadikan selimut untuk Laura,. Laura pun memeluk Ryou, dan ia tertidur. Sesaat habis Laura tertidur, Ryou tersenyum dengan senyuman jahatnya yang tidak diketahui oleh Laura.
TO BE CONTINUED…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar