Kuroshitsuji best couple!

Kuroshitsuji best couple!
Sebastian x Ciel

Sabtu, 27 Agustus 2011

Arukidasu! Chapter 3 -munculnya wujud Laura Phantomhive-


Pada pagi hari, aku pun terbangun dengan sinar matahari yang menyinariku karena Ryou membuka gordennya.
“Morning, Bocchan*” katanya tersenyum.
Aku yang setengah tidur duduk di kasur, ia pun memakaikan baju untukku.
“Hoaam… Hari ini kau ikut sekolah ya? Kau memakai seragam sekolahku…” kataku yang baru sadar dari lamunanku.
“Begitulah, ini kan untuk melindungimu” katanya memakaikan penutup mataku dan cincinku.
“Keren ya, padahal kau seumuran denganku, tetapi bisa diandalkan… wait a minute?! Kau kan nggak punya umur -_- akan selamanya sebesar itu” kataku.
“Nggak juga, kalau sudah ada kontrak denganmu, aku menjadi lebih tua sepertimu mulai dari sekarang…” katanya tersenyum dan memakaikan sepatuku. “Sudahlah, ayo kita berangkat”
“Iya…” kataku.
Kami pun pergi, dan sampai disekolah… Orang-orang hanya melihat kearahku.
“Mengapa orang-orang melihat kearah kita seperti itu?” tanyanya.
“Mungkin… karena kau membawa semua barangku, dan terus mengikutiku” kataku yang merasa bete.
Lalu, ada teman sekelas yang mengejek, “Siapa tuh? Pacar baru yaa? Huu, padahal sudah punya Zenkei”
“P-Pacar? Zenkei?” kataku bersweatdrop. “Sejak kapan?”
“Halah, jangan sok nggak tahu deh! Pake ngerebut pacar Elisa juga” kata teman sekelas yang lain. “Udah pacaran sama Zenkei, lalu ngerebut Keigo dari Elisa, sekarang malah punya pacar lain lagi. Pacar siapa tuh?”
Aku hanya bisa terdiam, dan berusaha menahan emosiku.
Ryou pun berdiri mendekati salah satu cewek itu, dan memojokkannya.
“Siapa yang kau bilang merebut pacar dan dia pacar baruku?” tanyanya mendekati si cewek.
Muka cewek itu pun memerah, “D-dia… Zenia…”
“Hmm? Mengapa? Dia itu Masterku… Jangan pernah mengejeknya lagi… atau kau akan tahu akibatnya” dia menatap cewek itu dengan tatapan tajam.
“Tak mau…” katanya masih malu.
“Oooh? Begitu yaa…?” dia nyaris menciumnya dan makin dekat.
“Kyaaa!” Cewek-cewek pun berteriak malu melihat situasinya. Aku yang ikut melihat, mukaku merah. Aku pun berbalik badan.


*Bocchan: artinya Young Master (bahasa jepang)
“Stop, Ryou. Kita pergi” kataku. Aku kesal dia melakukan itu. Dia HAMPIR berciuman dengan cewek itu. Dasar playboy!
“baik” Katanya yang mengikutiku.
“Mengapa kau lakukan itu?” tanyaku.
“Kau cemburu, Bocchan?” katanya tersenyum.
“Nggak mungkin aku cemburu dengan butlerku sendiri. Tetapi kau tidak perlu melakukan itu, kan?!” kataku yang berjalan lebih cepat.
“Karena kau tidak suka kekerasan terhadap teman, bukan begitu?” katanya.            Aku hanya terdiam dan terus berjalan. Ia ikut terdiam. “Maaf, bocchan”
“…Ya” kataku yang memasuki kelas bersamanya.
Lalu, pelajaran pun mulai. Aki-sensei menjelaskan kepada anak-anak tentang Ryou.
“Jadi, ini murid pindahan, yaitu Fukamori Ryou. Nah, beri salam ya, Ryou” katanya.
“Semoga kita berkawan dengan baik” katanya tersenyum.
Semua murid perempuan pun terpesona dengan senyumannya. Huh, dasar Ryou… dia memang populer, keren dan banyak talent…
“Tapi langsung saja, aku ini butlernya Zenia. Tapi agak susah bergaul dengan yang lain. Kalau mau mari saja bergaul bersama… ya ‘kan, Zenia?” katanya.
“Aku nggak perlu teman…” kataku yang cuek.
“Yah, dia malu, kayaknya.” Katanya bersweatdrop. “Aku duduk di belakang Zenia, ya!”
“Baik” katanya Aki-sensei.
Melihat aku dekat dengan Ryou, cewek-cewek teman sekelas melihatku dengan tajam, seolah-olah ingin membunuhku.
“Nggak ada yang perlu di khawatirkan” katanya yang berjalan melewatiku mengelus kepalaku.
Aku terdiam melihat kebawah.
“Kau nggak apa-apa, Zenia?” Tanya Keigo yang melihatku.
“Nggak apa-apa” kataku.
“Baiklah” katanya.
Lalu, pada saat makan siang, Zenkei yang dari luar langsung masuk ke kelas dengan susah payah, “Zenia! Zenia!”
“Kenapa?” tanyaku.
“Koran sekolah di papan hari ini, tentang Ryou dan si cewek, kamu juga masuk lho! Ayo liat sama-sama!” katanya menarikku.
“Aku juga ikut!” kata Keigo.
“Ryou!” kataku melihat kearahnya.
“Oke, Bocchan” katanya mengikutiku.
Lalu, kami pun sampai disana. Aku melihat foto kejadian ketika Ryou memojokkan cewek itu dan hampir menciumnya, dan fotoku. Tetapi para cewek mencoret-coret gambarku. Disana tertulis “Kisah cinta yang terganggu oleh cewek bernama ‘Zenia Heartfilia’” dan “Zenia yang sudah pacaran dengan Zenkei Arukana, merebut pacar Elisa Arukana, yaitu Keigo Raito. Dan sekarang ia berusaha merebut murid baru, bernama Fukamori Ryou yang mengaku sebagai masternya”
“…apa-apaan ini…” kataku yang terdiam.
“Itu si Zenia!” kata salah satu murid.
“Iya! Dia!” katanya yang lain lagi.
“huuuuu” kata hampir semua murid.
Aku yang terdiam sangat marah, “Ryou, kill them all!”
“B-but Bocchan…” katanya yang bersweatdrop.
“Just kidding” kataku yang menjalan menjauh.
Aku hanya terdiam tetap berjalan…
“Bocchan…”
Aku tetap terdiam…
“Boooocchaaaan…”
Aku tetap terdiam…
“Bocchan!” katanya yang menahanku.
“Apa?” tanyaku yang menatap tajam kearahnya.
“Sorry…” katanya.
Aku hanya terdiam melihat kearah lain. Tiba-tiba dia pun membuka penutup mataku dan membuka sarung tangannya, lalu menutup mataku dengan tangan yang ada tandanya.
“Huh…?” tanyaku bingung, aku merasa lega, dan tenang.
“udah mendingan, Bocchan? Maaf ya, tenang, aku ada di sampingmu” katanya.
“…Ya” kataku.
Disaat itu aku merasa seorang gadis menatap tajam dari belakang dan menyimpan dendam yang sangat banyak.
“…Ryou… Please, protect me no matter what, all right? This is an order!” kataku.
“Yes, my lord” katanya tersenyum.
Lalu, pulang sekolah aku diajak salah satu murid perempuan untuk mengobrol.
“Hei, kau Zenia, kan? Ayo ikut aku.” Katanya menarik kasar.
“B-Bocchan!” katanya ingin mengikutiku.
“Maaf Ryou-sama*, kau tidak boleh ikut” katanya tersenyum manis kearah Ryou.
“S-sama?” katanya bersweatdrop. Dia pun mendekatiku dan berbisik, “Bocchan, your order?”
“Stay here until I call you” kataku berbisik.
“Yes, my lord” katanya tersenyum.
Lalu, aku dan dia tiba di taman. Dia pun membuka wignya, dan itu… ternyata Mirei Trancy!
“M-Mirei…?” tanyaku.
“Ya, ini aku…” katanya tersenyum. “Shizu!”
*Sama: panggilan untuk yang terhormat
“Yes, Master”  kata Shizu yang muncul di belakangku dan menahanku.
“H-hei!!” kataku mencoba keluar dari tahanannya.
“Shizu, jangan sampai ia membuka penutup mata itu. Ikat dia di pohon itu” Katanya.
“baik.” Katanya.
“A-aku sangat tidak suka menyentuh pohon…” kataku diam saja -_-
“Akan kuhabisi kau…” katanya tersenyum jahat.
“E-eh?!” kataku terkejut.
“Master!” kata Shizu menatap kearahnya.
Mirei menangguk, dan Shizu membuka sarung tangan yang ada sealnya, yang tersambung ke lidah Mirei, Shizu menutup mulut Mirei dan sealnya bercahaya. Lalu Mirei mengangkat tangannya dan cincin Trancynya mengeluarkan cahaya. Mereka pun sama-sama bilang, “With power of love that is going to shine… On a light path, transform!!”
Mirei pun berubah dan menjadi orang yang berambut pirang dengan kuncir dua, dan memakai baju maid.
“Mari kita mulai…” katanya yang akan menyerang dengan alat-alat masak dan makan.
___________
“T-Tunggu… Jangan bilang ini jadi cerita Shoujo?! Seharusnya ini Shonen!!! Aaarghh!!” kataku panik. “Hey, Author!!”
“Y-ya?” Tanya Author yang sedang menulis cerita bab 4.
“Kenapa ceritanya jadi nyampur gini?!” tanyaku marah.
“‘Kan supaya unik?” Tanya Author yang serius bikin cerita sambil minum teh.
“T-tapi ‘kan… sampe bilang ‘With power of love’…” katanya yang sepertinya nggak suka. “Noraak!!”
“Tau ah!” kata Author. “Ini perintah! Tutup dimensi dari cerita ke kehidupan nyata ini!”
“Yes, my lord” kata orang yang sepertinya butlernya menutup dimensinya.
“E-eh? Bahkan dia punya butler juga?” kataku bersweatdrop.
_____
“Jangan bengong. Heaaaa!” katanya melempar pisau dan garpu.
“Uwaaahhh!!!” kataku menghindarinya. Aku pun mencoba membuka talinya, saking kencangnya jadi susah melihat dan susah untuk membukanya.
“Hiaahh!!” katanya terus melempar.
“Jangan diam saja, selamatkan aku, Ryou!!” kataku berteriak.
Aku terus menunggu, dan di saat satu pisau menuju kearahku, ketika di depanku sudah terhalang pisau dan garpu lainnya, dan hampir saja kena, Ryou pun datang dan menahan pisau itu. Lalu memotong talinya.
 “Your order?” Tanya Ryou.
“Lindungi aku dari mereka” kataku.
“Yes, my lord” katanya. “Hati-hati”
“ya” kataku bersiap-siap dengan kartuku.
“Jangan senang dulu!” katanya. “With the power of love, everyone, kill Zenia!!”
Lalu, semua siswi yang ada di sekolah, datang dan mencoba untuk menangkap Zenia.
            “Bocchan!” katanya melihat kearahku ketika ia menahan serangan Mirei.
            “Aku tidak apa-apa!” kataku.
            Mereka menahan kedua tanganku dan kakiku, aku pun tidak bisa bergerak.
            “Perintahmu?” tanyanya.
            “Lepaskan aku dari mereka!” kataku.
            “Yes… Bocchan…” katanya.
            Aku terus berusaha bergerak, dan mencoba untuk keluar dari tangkapan mereka. Sesaat itu, aku terus berharap untuk keluar, dan memiliki kekuatan yang tidak melukai mereka. Ryou pun melempar mereka semua.
            “M-Mereka tidak terluka, kan?!” tanyaku terkejut.
            “Tidak” katanya.
            “Mari kita bertarung!” kata Mirei.
            “Bocchan! Katakan mantranya untuk bertransform!!” katanya yang sedang melindungiku.
            “M-mantra apa?” tanyaku.
            “Ikuti kata-kataku! In a dream of blind destiny…” katanya
            “H-heh..?” tanyaku sweatdrop.
            “Cepat!!” katanya melihat kearahku.
            “Err, baiklah! In a dream of blind destiny…” kataku. Cincin Phantomhive itu mulai bersinar terang…
            “Darkness always hiding inside happiness…” kata kami berdua. “Now I shall reopen the path!”
            Lalu, kurasakan keberadaanku yang tadinya sepertinya terselimuti oleh kegelapan… dan, PYASH!!!
            Setelah sadar, aku mengenakan gaun pink yang berenda putih dengan pita pink beserta bunga-bunga. Aku juga melihat mempunyai rambut panjang yang dikuncir dua berwarna coklat tua, dan memakai topi.
            “Kau memang mirip sekali dengan Little Robin… Laura Phantomhive…” katanya tersenyum.
            “Ini… aku?” tanyaku yang kebingungan.
            “Selamat, kau telah bertransform” kata Ryou tersenyum kearahku. 
            “Oke, mari kita bertarung!” kataku tersenyum licik.
            “I’m honored” katanya ikut tersenyum.
            Ryou pun mengeluarkan dua pedangnya, dan melawan Shizu. Kalau aku, mengeluarkan hanya 1 pedang, melawan Mirei.
            Pertarungan ini pun terus berlanjut. Tetapi, aku nyaris saja mengenai salah satu murid, aku terhenti. “N-nyaris saja…” ah! Tetapi pedangku tersangkut!!
            “Lengah!!” katanya yang melempar para pisau kearahku, aku tidak dapat menghindarinya!
            “Bocchan!!!”
            TRANG!!
            “Ng…” aku pun membuka mataku.
            “Kau nggak apa-apa, Zenia…?” tanya Keigo yang menahan pisau-pisaunya dengan pistolnya.
            “Aku akan mengatasi dan mengsadarkan orang-orang” kata Zen yang memborong orang-orang kesuatu tempat.
            “Keigo… Zen… Thanks…” kataku tersenyum.
            “Tch, Guardiannya ya?!” katanya marah. “Shizu, retreat! Akan kuingat kau!”
            “Y-yes, Your highness..” katanya membawa Mirei dan pergi.
            “Tch, pergi lagi…” kata Keigo.
            “Yang penting semua selamat” kataku.
            “Iya…” katanya tersenyum dan menatap kearahnya.
            “Orang-orang sudah kembali” kata Zen yang terbang dari atas.
            “Bocchan, kau tidak apa-apa, kan?” Tanya Ryou yang mendatangiku.
            “N-nggak apa-apa…” kataku.
            “Hei, cewek-cewek itu makin heboh saja, ya” kata Zen.
            “Begitulah” kataku mengangguk.
            “Oh iya, ini membuatku bingung, mengapa kau masih ingin bersama cewek lain? Padahal Grell tunanganmu” kata Keigo.
            Oh iya… Ryou kan tunangannya Grell… waktu itu kenapa aku kesel banget ya? -_- K-kok… aku jadi plin-plan gini?! Suka Keigo, tetapi kesal kalau Ryou sama cewek lain… sudahlah -_- yang kupikirkan hanya Keita saja.
            “Begitu, ya Bocchan… jadi sama Keita saja” kata Ryou tiba-tiba.
            “Huh?! Bagaimana kau…” kataku yang blushing dan melihat kearahnya.
            “Mind reading” katanya tersenyum.
            “Jahat” kataku ngambek.
            Tapi… Tunggu, mengapa dia… tersenyum sedih seperti itu?
            “Kenapa sih??” Tanya yang lain.
            “Ah, begini, tunanganku itu Keita. Waktu itu aku suka kamu, Keigo…” kataku agak malu.
            “H-heh?!” katanya kaget.
            “Tenang2. Kau kan sudah punya Elisa, jadi aku menyerah. Jangan tinggalin dia yaa..” kataku tersenyum. “Zen juga, cari cewek yang cocok sama Zen…”
            “Iyaa” katanya males.
            “Dan Ryou, kau kan… punya Grell” kataku tersenyum.
            Ia hanya terdiam bisu.
            “…Ryou?” tanyaku merasa tidak enak.
            “…Eh? Ah, iya” katanya ikut tersenyum.
            Jam pulang pun berdering, dan kami pulang kerumah masing-masing. Dijalan, aku berdua dengan Ryou. Perasaan ini tidak enak, rasanya aku tidak bisa berkata apa-apa.
            “Ryou… Ada apa?” tanyaku.
            “Tidak apa-apa” katanya.
            “Bohong ah, bilang saja, ada apa…”
            Ia memojokkanku di tebok. “Kau benar-benar ingin tahu…?”
            “I-iya…” kataku.
            Ia mendekatiku dan…
            “Bercandaa” katanya tersenyum. “Aku hanya acting”
            “…Eh…?” tanyaku.
            “Jangan terlalu serius dong” katanya berjalan duluan. “Hahaha”
            “AAHH!! Jahat banget sih!!” kataku ngomel.
            Kami sampai rumah. Aku pun tertidur.
            ~~~
            Ryou pun melihat kearah Zenia, dan ia mendekatinya. Ia memegangi wajah Zenia.
            “Aku susah untuk mengatakan ini… tetapi… Aku menyukaimu…” katanya yang menampilkan wajah sedihnya yang seperti tadi saat ia tersenyum sedih.