Pagi ini, Cuacanya dingin sekali karena besok natal, tetapi kenapa… Ryou memelukku di kasur ini?!
“R-ryou…” kataku mencoba membangunkan Ryou.
“Oh, sudah bangun, Bocchan?” tanyanya.
“Iya, tapi apa yang kamu lakukan?” kataku -_-
“Kan kau mempunyai Asma yang parah karena keturunan Ciel” katanya “dan kau lemah dengan dingin.”
“tetapi tidak perlu begitu! Sudah, aku mau pergi kesekolah” kataku.
“Baiklah” katanya mengganti bajuku.
Kami pun pergi kesekolah. Seperti biasa, mata-mata orang-orang tertuju kepadaku.
“Tch, lagi-lagi” kataku tidak suka.
“Mau kuapakan sekarang, Bocchan?” tanyanya.
“Tidak tahu” kataku yang melihat kearah lain.
“Aww, you’re so cute” kata Zen yang tiba-tiba memelukku dari belakang. “Ryou, kau pacaran saja sama cewek-cewek. Shu shuuu… cewek-cewek aku juga suka sama kamu semua. Bete”
“Bukan salahku kali…” kata Ryou sweatdrop.
“Hatchii!!” kataku bersin. Aku pun batuk-batuk.
“Z-Zenia?! Kau sakit?!” Tanya Ryou panic.
“N-nggak apa-apa kok” kataku.
Lalu, saat olahraga, cowok dan cewek dipisah karena main basket.
“Nah, Zenia… mari kita tes kemampuan kamu…” kata cewek-cewek yang bersiap dengan tatapan tajam.
“h-heh..” kataku dengan perasaan tidak enak.
“Mari ikut” kata cewek-cewek membawaku kesuatu tempat.
Lalu kami pun keluar gedung.
“A-ada apa?” tanyaku.
“Kudengar kau punya asma yang parah… kami akan tinggal kau disini, supaya tahu rasa! Jangan dekati Ryou-sama!!” kata Neika, ketua klub geng pecinta Ryou.
“T-tung…”
Sebelum aku selesai bicara, mereka sudah menutup pintu dan menguncinya. Aku pun terdiam sendirian sudah susah bernafas, dan kedinginan.
“Huff… huff” aku terus terbatuk.
Aku melihat keatas, bentar lagi salju datang, ya… aku terus terbatuk, dan nafasku mulai berat.
Tiba-tiba, ada sinar terang dari samping.
“Jangan bilang, kalau saat ini…”
Ada vampire dan monster!! Ia naga yang besar!
“Tch, kenapa harus ada di luar sekolah, sih” kataku mengambil kartu.
Aku pun mengambil kartu air, dan ternyata ia menyemburkan es! Karena sepertinya aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku akan mengaktifkan Laura mode!!
“Laura mode, launch!” kataku. Lalu dengan cepat aku menjadi Laura mode.
Aku terus menghindar dari esnya. Sekarang naga itu marah dan makin cepat menyemburkan es. Aku menghancurkan esnya dengan pedangku, aku pun meloncat kearahnya dan berusaha membunuhnya, tetapi ia menggerakan tangannya kearahku, aku berhasil menghindarnya, tetapi tidak dengan tangan yang satunya. Aku terpental ketanah.
“D-dingin” kataku yang susah bernafas.
Tiba-tiba, ia menyemburkan es ke kakiku, dan aku tidak bisa bergerak. Ia pun mendekat.
“Zenia!!!” kudengar suara Keigo.
Tetapi dia cepat sekali dan…
SLASH!!!
Aku sudah terluka parah dan terjatuh. Aku susah untuk berdiri, disaat ia membuat serangan vital, tiba-tiba dengan kecepatan yang secepat kilat, Ryou menggendongku untuk menghindar, dan Keigo menahannya dengan summonersnya, Naga api.
“Maaf terlambat” kata Ryou. “Aku ditahan oleh cewek-cewek”
“Huh, nggak apa-apa =∆=” kataku malas mendengarnya.
“Maaf deh” katanya mengusap-ngusap kepalaku.
“A-aw…” kataku kesakitan.
“Whoops, sorry.” Katanya tersenyum jahil.
“Dasar” kataku tambah cemberut.
“Kalian jangan mesra-mesraan nggak jelas, cepetan bantuin!” kata Keigo.
“Maaf baru datang! Aku akan melawan Vampirenya!” kata Zen.
Kami berdua blushing, dan dengan cepat ia menurunku di tempat yang aman. “Tunggu disini, ya” katanya.
“T-tapi aku harus bantu!!” kataku ingin berdiri.
“Tch, Troublesome Master, diam saja disitu.” Katanya yang pergi.
“Huff… huff…” nafasku mulai lebih berat dari yang tadi.
!!!!!
Aku menjadi susah bernafas!! Asmanya… Kambuh!!
Aku bergetar dan susah bernafas…
Aku berusaha mengambil alatnya, tetapi baru ingat ada di Ryou!
“R… Ry… ou…” kataku.
Dia terlalu jauh untuk mendengarnya…
“R... Ryo.. u… Ryou…” kataku yang mencoba berjalan kearahnya, tetapi terjatuh.
Pandanganku mulai pudar… tetapi pada akhirnya Ryou melihatku.
“Bocchan…? Bocchan!!” katanya berlari kearahku.
“R… you…”
“Tunggu, gunakan ini!” katanya yang menggendongku.
Aku berusaha memakainya, dan akhirnya bisa bernafas kembali.
Aku berusaha memakainya, dan akhirnya bisa bernafas kembali.
“Hosh… hosh… akhirnya…” kataku.
Pandanganku masih berat, aku menyenderkan kepalaku didadanya dan memegangi bajunya erat. Huff… huff…
“…Bocchan?” tanyanya. “Kau demam…”
“R.. yo.. u… bawa… kesana… Aku harus mengseal mereka…”
“Baik” katanya.
Aku pun mengseal mereka. Dan akhirnya, kesadaranku mulai menghilang…
“B-Bocchan!!” kata Ryou yang wajahnya tidak terlihat jelas.
(Ryou side)
Aku pun terus melayani Bocchan, dan akhirnya dia terbangun.
“Bocchan? Udah bangun?” tanyaku yang mengecek demamnya.
“Nyaa… udaah…” katanya tiba-tiba memelukku.
“B-Bocchan!?” kataku blushing.
“Nggg…” katanya terus memeluk sampai mendorong jatuh di kasur.
“H-hey, kau masih demam, ya?!” kataku yang mengecek. “D-demam berat… -_-”
“Ryoou… Mari kita ber-se-nang <3” katanya menaruh satu jari di depan bibirku.
“H-hey, Bocchan…” kataku.
Sebenarnya ini kesempatan bagus untuk memonopolinya… Disaat dia sedang begini…
“Bocchan!! Kau harus tidur!” kataku yang menaruh ia untuk tiduran.
“Nggak mauu…” katanya masih memelukku.
“Nggak mauu…” katanya masih memelukku.
“Bocchan! -_-” kataku.
“Kalo gitu sambil dipeluk~~” katanya tersenyum.
Ukh… Cute banget sih…
“Nyaaan~~” katanya yang bergaya kucing.
Blushhh!! Mukaku merah padam.
“B-bodoh, jangan bergaya kayak gitu!” kataku yang melihat kearah lain.
“Memang kenapa, nyan? Nyaaan” katanya yang lebih kekucing2an.
Mukaku tambah merah. “Kau ini… nanti kenapa-napa loh…”
“Nggak apa-apa tuh <3 aku lumayan punya perasaan ke Ryou” katanya.
“E-EH?! ∑O∆O” kataku kaget.
“Nyaan~~” katanya terus seperti itu.
“Dasar… bodoh…” kataku memeluknya.
“Nyan?” tanyanya.
“Kau… kalau seperti itu, aku akan… Tambah merasa sakit… karena…” kataku yang bermuka sedih. “Semakin menyukaimu…”
(back to Zenia’s side)
“Ng…” kataku terbangun.
T-tunggu… kenapa aku memeluk Ryou, dan ia juga memelukku dan tertidur?!
“R-Ryou” kataku.
“Bocchan? Oh, udah sadar ya?” tanyanya.
“He-eh” kataku. “Lalu, kenapa aku kayak gini…?”
Dia tersenyum jahil, “Pikir saja sendiri”
“Dasar...” kataku ngambek.
“Sudah mendingan, demamnya?” tanyanya mengukur panasku.
“Ng, iya” kataku yang sedikit blushing.
“Baiklah… Aku akan pergi mengambil makananmu” katanya.
Secara refleks, aku menarik baju belakangnya.
“Jangan tinggal aku sendirian…” kataku.
Gerakannya terhenti, ia pun menghadap kearahku, “Bocchan?”
“A-ah, Sorry, kamu bisa mengambil makanannya.” Kataku tersenyum.
“…Baiklah…” katanya meninggalkan ruangan.
Aku yang masih tersenyum, teringat..
“Mengapa aku…”
Ryou’s side:
“G-geez, kenapa dia tiba-tiba begitu sih..” kataku yang mukanya memerah. “Udah Moe gitu lagi”
“Apa ada yang terjadi kepada Master?” kata seseorang.
Aku menghela nafas sedikit, dan tersenyum kearahnya. “Shizuka…”
Zenia’s side:
“Ck, mengapa ia lama sekali, sih…” kataku. “Jadi ingin tahu ia ngapain aja”
Aku pun kedapur, dan mencari. Aku melihat sosok Ryou, dan aku pun membuka pintu.
“Ryo----”
?! Mengapa… Ia… melakukan yang tidak harus kulihat dengan Shizuka?! NYUT… hatiku terasa tertusuk. Melihat Shizuka terpojok di meja pembuat kue, dan bajunya terbuka sedikit.
“A-APA YANG KAU LAKUKAN, RYOU…?!” tanyaku dengan aura yang sangat marah.
“B-bocchan! Ini…”
“Ia menyerangku!!” kata Shizuka yang matanya berkaca-kaca.
“Apa?! Aku tidak seperti itu!!”
“Sudahlah…” kataku yang tanpa sadar meneteskan air mata. “Kalian bermesra-mesraan saja…”
Aku pun meninggalkan ruangan itu.
“Bocchan! Tunggu!”
Suaranya pun makin dekat, aku berlari secepat mungkin.
“Bocchan!” katanya lari makin cepat.
∑O∆O; larinya cepat banget!!! Aku pun terus berusaha berlari secepat mungkin tetapi…
“Tertangkap!!” katanya memegang tanganku.
“Lepasin nggak?!” kataku.
“Nggak mau!” katanya memegangnya makin erat.
“Jangan memelukku! Sana mesra-mesraan sama Shizuka!” kataku yang berbalik badan. “Aku itu kesal tahu!!! Melihat kau… sama cewek lain!!”
“Eh..?” tanyanya.
“Setiap aku melihat kau bersama cewek lain, aku sangat kesal!! Dan aku gampang sekali deg-degan jika berduaan bersama kau!! Aku tidak ingin kau bersama cewek lain!! Dadaku.. Dadaku sakit, tahu!! Kau juga selalu saja menjahiliku disaat momen yang serius!! Menyebalkan!! Aku… merasa mulai tidak ingin kau pergi! Aku----”
Secara tiba-tiba, Ryou menciumku sangat dalam.
“Syukurlah… Kau menyukaiku kan, Master?” tanyanya tersenyum.
Aku blushing dan melihat kearah lain. “Nggak, aku benci kau. Sangat benci. Karena kau playboy butler”
Ia tertawa kecil, “Dasar master yang tidak pernah jujur…”
“Apa katamu?!” kataku marah.
Ia menaruh satu jari di mulutku, “Apa kau ingin aku hanya serius kepada kau?”
Mukaku merah padam. Aku mengalihkan pandangan. “…Iya… aku m-memperintahkanmu… untuk hanya serius padaku… dan jangan pernah jadi playboy lagi… hanya untukku, ya. K-Kau milikku seorang”
Ia terkejut dan sedikit blushing, lalu tersenyum. “Yes, my lord”
“Begitu, ya” kata Shizuka yang tersenyum di samping pintu.
“S-Shizuka! Aku tidak akan membiarkanmu mesra-mesraan besama Ryou lagi!!! Awas saja!” kataku blushing dan menunjuk kearahnya.
“fufufu, Rencanaku berhasil” katanya tertawa kecil.
“Rencana??” tanyaku.
“Kau itu tertipu, tahu… Aku itu hanya terjatuh karena lantainya licin, dan tidak sengaja aku menarik bajunya dan terpojok.” Kata Ryou.
“O.O APA?!” kataku.
“Dengan kata lain kau ke-geeran yang akhirnya menjadi begini” kata Shizuka.
Ryou tertawa, “Dasar master yang ceroboh”
“Aku… AKU BENAR-BENAR BENCI KAU!!” kataku yang blushingnya setengah mati karena malu.
Burung-burung berkicau, “Ahooo… Ahoo… Ahooo…”
Bonus:
Zenia pun terjatuh pingsan karena demamnya masih belum hilang.
“B-Bocchan!!” kata Ryou yang panik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar