Kuroshitsuji best couple!

Kuroshitsuji best couple!
Sebastian x Ciel

Senin, 11 Juli 2011

Arukidasu! Chapter 1 "Pertemuan"


Mari kuperkenalkan, namaku Zenia Heartfilia. Aku berumur 14 tahun. Aku tinggal sendiri. Mataku ditutup satu, entah katanya tidak boleh dibuka sampai aku dalam bahaya. Aku berteman dengan Kuroretsu Keita dan Zen Kurogane sejak kecil. Tetapi, sejak tanggal 14 April, Keita-senpai* dan Zen pun menghilang dan saat… Aku tidak mengingatnya.. Aku juga tidak tahu asal kehidupanku. Aku pun memasuki sekolah baru, bernama Tsubasa no Gakuen.
            Aku pun memasuki gedungnya. Lumayan megah dan sepertinya akan berbeda dengan sekolahku yang dulu, bernama Futatsu Gakuen. Aku pun memegang cincin dan kartu legendaris yang diberi oleh seseorang. Katanya ia berharga dan aku harus menyimpannya. Di saat aku berjalan melewati tangga, angin pun bertiup kencang. Aku menahan poni rambutku untuk tidak menutupi mataku. Saat aku melihat keatas, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang sepertinya seumur denganku terjatuh dari tangga. Dengan cepat, aku menangkapnya dan menahannya supaya tidak jatuh.
            “Kau tidak apa-apa?!” tanyaku khawatir.
             Anak itu pun tidak menjawab apa-apa. Aku merasakan suhu badannya yang panas, sepertinya dia terkena demam. Aku pun mencoba untuk menggotongnya. Disaat aku menopangnya, dia pun terbangun.
            “Eh, dimana aku?” Tanya anak itu.
            “Baru saja aku mau mengantarmu ke UKS… Kamu tidak apa-apa?” tanyaku.
            “Tidak apa-apa. Biarkan aku sendiri, aku bisa masuk ke kelas kok.” Katanya.
            “Apa kamu yakin?” tanyaku kurang yakin.
            “Iya. Tapi, thanks ya, sudah menggotongku sampai sini.” Kata anak itu. “Namamu siapa?”
            “Zenia… Zenia Heartfilia.” Kataku.
            *Senpai: dipakai saat memanggil yang lebih tua yang berarti kakak kelas.
*San: dipakai memanggil yang belum begitu dekat. Bisa untuk perempuan dan laki-laki. Cenderung memakai nama belakang. Jika lebih mengenal, memakai nama depan. Tetapi, jika lebih mengenal lagi, dipakai kata “Chan” untuk perempuan, “Kun” untuk laki-laki.  

“oke Zenia-san*, namaku Keigo Raito.” Katanya. “Boleh, kan, aku memanggilmu Zenia?”
 “Boleh kok…” kataku tersenyum. “kalau aku? Bolehkah aku memanggilmu Keigo-san?”
            “Tentu” katanya membalas senyumku.
            Ting… Tong…
            Bel sekolah pun berbunyi, sepertinya sudah saatnya masuk kelas.
            “Ah, sudah masuk kelas nih, duluan ya!” kata Keigo.
            “Iya!” kataku melambaikan tangan. “Oh, tidak! Aku juga harus masuk ke kelas!”
            Lalu, aku pun buru-buru masuk ke kelas. Guru sudah menungguku di depan kelas.
            “Ayo, semua sudah mengunggumu!” kata Guru.
            “Iya!” kataku berlari kearah guru.
            Lalu, aku pun memasuki kelas. Aku melihat banyak anak yang membisik-bisik dan bertanya-tanya siapa aku. Ternyata sekolah ini menggabungkan 2 Grade dalam 1 kelas.
            “Baiklah anak-anak! Namaku Aki, wali kelas kalian! Dan ini, adalah anak pindahan.” Kata Guru yang sekarang kukenal sebagai Aki-sensei*.
            “Perkenalkan, namaku Zenia Heartfilia. Salam kenal” kataku.
            “Lho? Zenia-san? Kamu juga disini, ya?” Tanya Keigo.
            “Ah, iya… Kita sekelas, ya!” kataku tersenyum.
            “Wah, sepertinya sudah saling kenal dengan Raito-san ya, Heartfilia-san?” kata Aki tersenyum dan menepuk pundakku.
            “Ah, iya, baru saja aku berkenalan dengannya tadi pagi…” kataku ikut tersenyum kearahnya.
            “Baiklah, kau duduk di sebelah Raito-san saja! Bisa ‘kan, Raito-san?” Tanya Aki mempersilahkanku duduk disana.        
“Boleh, kok! Silahkan!” kata Keigo sambil menepuk-nepuk bangku sebelahnya yang akan kududuki.
*sensei: panggilan untuk seseorang yang ahli dibidangnya. Misalnya, untuk seorang guru.          
“Ah, makasih…” kataku duduk disebelahnya.
            “Sepertinya, tahun ini akan menjadi tahun yang seru, ya!” kata Keigo tersenyum padaku.
“Ah, iya…” kataku membalas senyumannya.                 
Lalu, kami belajar. Pada jam 12.00, waktu Lunch pun dimulai.
“Mau ikut? Kau belum terbiasa disini, ‘kan?” Tanya Keigo.
“Ah, iya…” kataku membereskan barang.
Lalu, disaat itu, tiba-tiba aku merasakan ada yang memanggil Keigo.
“Keigo-san, kau dipanggil tuh…” kataku.
“Oh? Dia lagi, ya?” katanya melihat anak itu.
            “Huh, kau curang, Keigo-kun! Aku juga ingin berkenalan dengannya! Aku ‘kan juga sekelas dengannya…” kata seseorang laki-laki merangkulku.
            “Curang? Aku kan hanya bertemu dengannya lebih cepat…” kata Keigo.
            “Hu-uh! Oke deh, salam kenal, namaku Zenkei Arukana! Aku Grade 9… kamu Grade 8 ‘kan?” katanya tersenyum. Mungkin, dia adalah kakak kelas yang ceria dan energik.
            “Iya, salam kenal juga, Arukana-Senpai” kataku menunduk. “Namaku Zenia Heartfilia”
            “Ah, tak usah terlalu formal, aku tidak begitu suka. Kamu juga lebih enak menyapaku seperti teman biasa…” katanya sambil menggaruk-garuk kepala. “Iya ‘kan, Zenia-chan?”
            “Iya juga sih,, kupanggil Zenkei-senpai saja, ya?” tanyaku.
            “Iya, boleh kok!” katanya. “Ngomong-ngomong, Keigo-kun juga Grade 9 lho. Kau panggil dia Keigo-san, ya?”
            “Huh?! Dia Grade 9?? Kukira seumuran…” kataku bingung.
            “Ahaha… Nggak apa-apa kok, kau juga panggil aku Zenkei-san aja ya?” katanya.
            “Iya deh…” kataku tersenyum.
            “Hei… Mau Lunch nggak nih? Nanti keburu makanannya habis lho…” kata Keigo sudah mau memasuki pintu tempat Lunch.
            “Ah, iya! Ayo!” kataku berlari kearahnya.
            Lalu, ternyata Lunchnya enak-enak! Tetapi untuk menjaga karakterku, aku memakannya dengan baik. Lalu, aku pun melihat ada yang membisikkanku. Aku pun diam saja dan bingung.
            “Aku dan Zenkei duluan, ya! Kami ada urusan” kata Keigo melambaikan tangan.
            “Iya…” kataku ikut melambaikan tangan. “Huff… Sendirian deh”
            Lalu, tiba-tiba ada seorang perempuan yang berbicara denganku.
            “Hei, kau yang katanya anak pindahan ya?” Tanya cewek itu.
            “Iya…” jawabku.
            “Kok bisa sedekat itu dengan Keigo-kun dan Zenkei-niisan*? Dan sepertinya Keigo-kun berbeda. Dulu ‘kan dia agak pendiam, lalu cuek. Dia juga nggak gampang diajak ngobrol dengan cewek kecuali aku...” Kata cewek itu.
            “Yah, mana kutahu… Aku kan baru kenal tadi pagi” kataku.
            “Ooohh… begitu, ya..” katanya.
            “Memangnya kenapa?” tanyaku.
            “Jangan bilang siapa-siapa ya?” tanyanya.
            “Iya” kataku dengan cepat.
            “Aku pacar Keigo-kun…” katanya membisikku.
            “E.. Eh?!” kataku terkejut.
            “Ssstt… Jangan keras-keras ngomongnya!” katanya.
            “Eh, iya, sorry” kataku gelagapan.
            “Namaku Elisa Arukana, salam kenal! Aku adiknya Zenkei-niisan!” katanya tersenyum.
            “Oh? Pantas mirip dengan Zenkei-san…” kataku. “Energik..”
            “Hahahaha! Keluarga kita memang semuanya energik, kok!” katanya tertawa.
            “Eh, sudah dulu ya, aku mau ke kelas!” kataku tersenyum. “Namaku Zenia Heartfilia. Kau bisa memanggilku Zenia, Elisa-san..”
“Iya!” katanya ikut tersenyum.
*Niisan/Oniisan: kata untuk seorang kakak laki-laki. Jika kakak perempuan, bisa dibilang Oneechan,/Neechan atau Oneesan/Neesan
            Dijalan, aku terus memikirkan, Dia pacar Keigo-san? Aku tidak tahu itu… Lalu, aku pun ke kelas. Lalu kembalilah waktu belajar.
            “Kok melamun?” Tanya Keigo menatapku dengan dalam.
            “Eh? Ah, nggak kok” kataku.
“Yang benar? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal, ya?” tanyanya.
            “Nggak…” kataku melihat kearah lain.
            Aku berfikir, kok rasanya aneh? Sepertinya aku kesal kalau dia itu pacarnya Elisa…
            “Tadi kau ngobrol dengan Elisa, ‘kan?” tanyanya.
            “Kok tau?!” kataku terkejut.
            “Tentu saja… Aku melihatnya… Pasti dia ngomongin kalau aku pacarnya…” katanya.
            “….. Aku…”
            “Sudahlah! Tak usah dipikirkan… Lagian, kamu juga tidak suka aku, ‘kan? Hahaha… masa’ cemburu gara-gara aku…. Kita ‘kan baru kenal…” katanya tertawa.
            “Eh,, iya juga ya..” kataku.
            “Hehe,,” katanya tersenyum.
            “Haha..” kataku memaksakan untuk tersenyum.
            Bel pulang pun berbunyi… Pelajaran pun selesai…
            “Aku ada urusan sama Elisa, kau pulang saja dengan Zenkei!” kata Keigo. “Byee..”
            “Ah, bye…” kataku melambaikan tangan.
            “Zeniaaa…” kata Zenkei memelukku dari belakang.
            “H… Hei… Zenkei-san… Jangan tiba-tiba dong…” kataku blushing.
            “Kenapa memangnya?” tanyanya manja.
            “Nanti yang lain salah paham lho…” kataku.
            “Hahaha… Biarin…” katanya.
            “Dasar…” kataku sweatdrop.
            “Kau suka pada Keigo ya?” bisiknya.
            “Hee?? Nggak kok! Masa’ baru kenal sudah suka?” kataku blushing.
            “Memangnya, kau tidak percaya cinta dengan pertemuan pertama?” tanyanya.
            “Percaya sih…” kataku.                                                                                                        
            “Haha… Sudah kuduga…” katanya.
            Tiba-tiba aku mendengar ada orang-orang yang berteriak lari.
            “Apa itu?” tanyaku terkejut.
            “Muncul lagi, ya…” kata Zenkei. “Kau tunggu disini!”
            “Eh? Muncul? Apa itu??” tanyaku bingung.
            Di tempat itu pun mengeluarkan sinar yang terang dan menyilaukan. Aku pun menutup mataku untuk menahan sinarnya. Aku melihat Zenkei mengeluarkan Scythe. Setelah itu aku melihat lagi sinar yang lebih terang. Lalu, disaat itu, aku melihat Zenkei terpental kearahku. Aku pun cepat-cepat mengangkapnya. Sepertinya dia pingsan dan dia berlumuran darah. Aku menaruh kepalanya di pahaku.
            “Zenkei! Zenkei!!” kataku mencoba membangunkannya.
            Makhluk itu pun melihatku. Dia berbentuk  seperti Bidadari yang jahat. Dia pun berjalan kearahku. Aku pun bingung harus bagaimana. Lalu, aku pun menutup mataku dan memeluk Zenkei dengan erat. Aku berfikir, mungkin ini adalah hari pertama sekaligus terakhir untuk merasakan kebahagiaan ini.
            Tapi, tiba-tiba ada sinar terang di kartuku. Aku pun tidak tahu, entah mengapa, aku merasa sudah pernah melakukannya. Lalu, aku pun mencoba untuk mengeluarkan kartu. Yang lainnya tidak bergambar, dan, yang kupunya yang bergambar hanyalah satu. Gambar air yang berbentuk bulat. Sepertinya ini akan berhasil. Aku pun mengambil kartunya. Makhluk itu semakin dekat, aku pun melempar kartuku keatas, “Kubuka kau, Water Box!!” dan pyash! Terdapat genangan air di sekitarku.
            Sebelum aku sempat memakai kekuatannya, bidadari itu mengejarku dan melemparku menjauh dari genangan itu dan mengambil alih airnya.
            “E… Eh..?!” kataku terkejut.
            “Aku tidak akan membiarkanmu mengurungku kembali, anak legendaris…” katanya mencekikku.
            “Hen… Hentikan..!!” kataku mencoba untuk melepaskan tangannya.
            “Tidak akan…” katanya.
            Dia pun mengurungku dengan bola air yang kusummon. Karena dia bidadari, jadi dia bisa mengendali semua elemen. Aku sudah tidak kuat lagi menahan nafas. Perlahan-lahan, aku menutup mata. Tetapi, tiba-tiba, aku mendengar kata-kata, “ZENIA!!!”
            “K… Keigo…?!” kataku membuka mata.
            “Tunggu! Aku akan menolongmu!” katanya.
            Lalu, dia pun mengambil 3 peluru yang berwarna beda. Aku bingung apa yang akan dia lakukan. Dia pun memasukkan ke pistolnya, dan dia menembaknya. Disana ada asap tebal. Dan makin lama, makin menipis. Disana pun ada makhluk naga Es. Dengan cepat, naga itu membekukan bidadarinya, dan aku keluar dari air itu. Tanpa basa-basi, aku langsung mengurungnya di kartuku. Tetapi, tiba-tiba pandanganku buyar.
“Ke… napa di saat begini…. Aku…” kataku pusing. Aku pun terjatuh pingsan.
Saat aku bangun, aku berada di kamar seseorang. Aku melihat sekeliling. Aku pun terkejut dan terbangun.
            “Hei, hei, heeei! Kau tidak apa-apa?” tanya Keigo kepadaku panik.
            “Ng… Nggak apa-apa kok… Ini dimana?” tanyaku.
            “Ini di rumahku” katanya memegang jidatku dan tersenyum.
            “Ehh… Kamu yang menggotongku sampai sini?” tanyaku.
            “Iya…” jawabnya.
            “T… Thanks! Maaf merepotkan…” kataku.
            “Tidak apa-apa!” katanya.
            “Baiklah…” kataku.
            “Aku tidak mengira kau adalah anak kerajaan itu… soalnya namamu beda.” katanya. “kau masih belum bisa mengontrolnya, ‘kan? Lebih baik kau latihan dulu. Tetapi sekarang kau harus istirahat dulu.”
            “Ah, iya… Lalu, bagaimana dengan Zenkei?” tanyaku melihat kearahnya.
            “Dia baik-baik saja…” katanya ikut melihatnya. “Kau sebaiknya tidur saja lagi… Kau sendirian juga ‘kan, dirumah? Besok ‘kan libur”
            “Eh? Kok tau?” tanyaku bingung.
            “Tau dong…” katanya. “Aku gitu loh”
            “errr… oke deh… -_-” kataku bermuka polos. “Ngomong-ngomong, apa yang terjadi tadi? Apa makhluk itu? Dan apa yang dimaksud orang legendaris?”
            “Kita akan membicarakannya besok… oke?” katanya.
            “Um, baiklah…” kataku sedikit lesu.
            Dia pun terdiam. Aku menatapnya. Lalu, dia mendekatiku.
            “Sampai besok…” katanya berbisik kepadaku. “Akan kuberi tahu semuanya.”
            “Baiklah…” kataku.
            Tiba-tiba, dia mencium jidatku.
            “Eh…?” tanyaku blushing.
            Keigo pun hanya tersenyum melihat kearahku, “Aku akan memasak untuk makan malam”
            BLAM… pintu pun tertutup.
            Aku terdiam bisu, mukaku merah padam.
            “Tuh ‘kan, kau suka Keigo…” kata Zenkei tiba-tiba ke kasurku yang tadi kukira tertidur.
            “Zenkei…?! Ng… Nggak, tuh! Aku ‘kan hanya…”
            “Stop, nggak perlu ngomong lagi, aku sudah tau cepat atau lambat kau akan menyukainya…” kata Zenkei menutup mulutku.
            Aku pun memegang tangannya dan memindahkan tangannya.
            “Memangnya kenapa?” tanyaku bingung.
            “Kau mau tau?” tanyanya kepadaku.
            “Iya, ada apa?” tanyaku.
            “Lihat aku baik-baik, Zenia… Apa kau tidak ingat kepadaku?” tanyanya menatapku dengan dalam sekali.
            “Kau Zenkei, ‘kan?” tanyaku.
            “Aku bukan Zenkei, tapi Zen! Ingat! Saat kau masih kecil!” katanya memegang kedua tanganku.
            “Saat masih kecil…? Aku tidak ingat…” kataku bingung.
            “Ayo! Ingat-ingat!” katanya semakin dalam melihatku.
            Tiba-tiba aku teringat sesuatu, seorang laki-laki yang tersenyum kearahku, memakai baju… Pangeran?
            “K… Kau…”
            “Ingat? Aku Zen Kurogane … Teman sejak kecilmu…” katanya mendekatiku.
            “Aku ingat sekarang…!! Nggak kusangka akan kembali bertemu…” kataku terharu.
            “Ya…” katanya tersenyum. “Aku cemburu, tahu…” Dia pun makin dekat…
            “Z-Zen…?” tanyaku blushing dan bingung.
            Dia pun makin mendekat, dan semakin dekat…
            “Tung, tunggu, kau…”
            Bibirnya pun makin dekat…
            Lalu…
            “Hei, makanan sudah siap!” kata Keigo tiba-tiba membuka pintu.
            GUBRAAAKKK… Semua ambruk seketika.
            “K-Keigo…?” kataku bersweatdrop.
            “Huh? Kenapa?” Tanya Keigo bingung.
            “Kau itu… DASAR PENGGANGGU!!” kata Zen memukul Keigo.
            “Heh? Kenapa nih?!” Tanya Keigo menangkis tangan Zen.
            “KAU PENGGANGGU!!!” kata Zen blushing.
            “Sorry deeh…” katanya.
            Lalu, malam ini pun diakhiri oleh malam yang melelahkan… -_-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar